Selamat datang di website Majelis Agama Khonghucu Indonesia “MAKIN” Jambi “ 印尼占碑孔教 "

27 Januari 2009

Imlek, Barongsai Kerumah Warga

JAMBI – Perkumpulan Hong Liong Sai Jambi, memeriahkan Perayaan Tahun Baru Imlek (Yin Li Xin Nian) jatuh pada tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek (Cia Gwee Che It) dengan mendatangi rumah-rumah warga Tionghoa untuk memberikan ucapan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Tahun Baru tidak lengkap rasanya tanpa adanya atraksi Barongsai dan Liong, untuk itu sejak pukul 06.00 WIB rombongan Perkumpulan Hong Liong Sai Jambi yang bermarkas di Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Menyemarakan Tahun Baru Imlek ke 2560 ini, atraksi Barongsai dan Liong mengelilingi rumah-rumah warga mulai start dari simpang empat Jelutung, atraksi tersebut tidak hanya dapat di nikmati di Klenteng maupun Pusat Perbelanjaan saja, tetapi juga dapat di nikmati masyarakat sepanjang perjalanan.

Kehadiran Perkumpulan Hong Liong Sai Jambi kerumah warga juga menyimpan makna religius, yakni kepercayaan masyarakat Tionghoa barongsai dan Liong dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan rejeki yang berlimpah.

Atraksi ini sangat ditunggu oleh warga Tionghoa maupun masyarakat umum, terbukti dimana rute yang akan dilalui rombongan Barongsa dan Liong, masyarakat telah memadati sisi jalan, mereka ingin menyaksikan langsung atraksi secara dekat.

Rudi Lidra, salah satu pemilik rumah yang didatangi rombongan Barongsai dan Liong, mengatakan, semoga setelah Imlek ini, kita semua diberi kesehatan dan rejeki meningkat terus, demikian juga dengan komentar Ketua Pengprov Pexi Jambi, Darman Wijaya, “dengan penggantian tahun tikus ke tahun kerbau ini, akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia, khusus bagi masyarakat di Jambi. (Rom/Yul/No2)

Keluarga Darman adakan Open House

KOTA JAMBI - Hari Raya Imlek (yin li xin nian) jatuh pada tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek (cia gwee che it) bertepatan dengan pergantian tahun Imlek yang berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan) yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa diseluruh dunia, tidak ketinggalan masyarakat Tionghoa yang berada di Indonesia.

Berbagai cara masyarakat Tionghoa Jambi menyambut tahun baru imlek kali ini, berikut catatan timweb di hari pertama Imlek, bagi warga Tionghoa mempunyai keluarga atau anak yang bermukim diluar daerah menggunakan kesempatan tersebut untuk berlibur (pulang kampung) seperti beberapa tokoh masyarakat maupun pengusaha asal Jambi.

Lain lubuk lain ikannya, lain orang lain sifatnya, hal ini terbukti bahwa menyambut imlek dengan berbagai cara seperti ada yang menyediakan aneka hidangan kue-kue maupun aneka buah-buahan segar, namun yang satu tergolong cukup unik dalam menyambut tahun baru imlek, betapa tidak keluarga besar Darman Wijaya setiap tahun menyambut imlek dengan menggelar open house dari pagi hingga malam.

Open House digelar Darman Wijaya dirumah, Darman Wijaya adalah Ketua Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI) Jambi dan Sesepuh Yayasan Aneka Kesejahteaan (ANKE), , dari pukul 09.00 hingga pukul 17.00, open house terbuka untuk karyawan, masyarakat umum baik dari warga tionghoa maupun warga non tionghoa, hasil pantau timweb, sejak pagi berduyun-duyun karyawan PD. Onoda memberi salam kepada Darman Wijaya beserta keluarga.

Adapun hidangan yang tersedia seperti ketupat, nasi berikut lauk pauk, beberapa jenis kue kering dan buah-buahan jeruk maupun duku. (Rom/Yul/No)

25 Januari 2009

Jelang Imlek Pedagang Tebu Musiman Ketiban Rejeki

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek hanya tinggal hitungan jam, moment tersebut digunakan para pedagang musiman untuk mengais rejeki buat tambahan kebutuhan rumah tangga

Salah satunya adalah pedagang musiman yang ketiban rejeki menjelang Tahun Baru Imlek adalah pedagang tebu batangan.

Diantara para pedagang musiman yang menjajakan tebu batangan di emperan ruku-ruko daerah pasar Hong Kong Jalan Hayam Wuruk Jelutung adalah Ong Bok He atau Saad (70) yang tinggal di daerah Kebun Handil, ternyata Ong Bok He dalam usia berkepala tujuh puluh badannya masih terlihat kuat.

Ujar Ong Bok He (Saad) yang sepuluh tahun lebih berjualan tebu menjelang Imlek, Tebu yang dijual adalah tebu telor yang ditanam di kebun sendiri, untuk menghasilkan tebu setinggi lebih kurang 2 meter memerlukan waktu tujuh hingga setahun, perbatang tebu dijual dengan harga kisaran Rp. 15.000 sampai Rp. 20.000.-

“tebu telor ini dijual perpasang (2 batang) Rp. 15.000/ Rp. 20.000”.

Selain itu kata Aldo warga Rt. 32 Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, bahwa ada dua jenis tebu, yaitu tebu telor dan tebu kapur, kalau tebu telor warna kulitnya kuning, sedangkan tebu kapur disekitar tuasnya ada putih-putih seperti kapur, tebu ini biasa dijual pedagang es tebu.

Menurut tradisi dan kepercayaan masyarakat Tionghoa, tebu yang dipasang di pintu masuk rumah atau tempat usaha akan memberikan manfaat tersendiri, terutama mendatangkan rejeki dan juga menolak bala (Rom).

24 Januari 2009

WTC Batanghari Jambi Menyambut Tahun Baru Imlek

JAMBI – Untuk memeriahkan datangnya Tahun baru Imlek yang tinggal dua hari lagi, pusat perbelanjaan terbesar Kota Jambi, Sabtu (24/1) kemarin mengadakan atraksi Barongsai untuk memberikan hiburan tersendiri bagi para pengunjung WTC.

Ternyata keberadaan Rombongan Barongsai dari Yayasan Kesejahteraan Sentosa memberikan atraksi cukup luar biasa, hingga para pengunjung yang telah lama menunggu dapat terobati. Selain atraksi barongsai, terdapat sepasang remaja yang mengenakan busana jaman kerajaam China.

Menurut Manager Event Order dan Promosi WTC Batanghari Jambi Ema (24/1) bahwa untuk menyambut Tahun baru Imlek 2560 sengaja mengadakan pertunjukan (atraksi) barongsai untuk menghibur pengunjung WTC (Rom).

Masyarakat Tionghoa Merayakan Imlek

JAMBI – Pada 26 Januari 2009, masyarakat Tionghoa di Indonesia akan merayakan Tahun baru Imlek 2560 secara terbuka dan meriah, dimana pada masa rezim Orde Baru mustahil dapat dilakukan, karena adanya larangan dari pihak penguasa yang sangat otoriter dan represif.

Seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan berlangsungnya reformasi maka saat ini hampir seluruh peraturan yang mendiskriminasi terhadap etnis Tionghoa, termasuk kesempatan untuk menjadi presiden dan pelarangan ritual kepercayaan, agama, tradisi, bahasa, dan aksara Tionghoa boleh dikatakan hampir seluruhnya telah dieliminasi.

Selaras dengan dihapuskannya pelarangan-pelarangan tersebut, Tahun Baru Imlek yang telah dinyatakan sebagai hari libur nasional dengan sendirinya bebas untuk dirayakan secara terbuka. Tahun Baru Imlek semasa Orde Baru dijauhi dan dianggap haram oleh sebagian kalangan masyarakat Tionghoa karena takut kepada penguasa.

Di sisi lain bagi Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) yang mewadahi umat Khonghucu di Indonesia, Tahun Baru Imlek adalah puncak dari ritual keyakinannya, namun walau begitu mereka tentunya tidak berhak untuk mengklaim bahwa Tahun Baru Imlek hanya milik umat Khonghucu saja dan memang selama ini belum pernah ada pernyataan yang berisi klaim tersebut.

Dengan jujur kita harus mengakui bahwa karena keyakinannya, di masa rezim Orde Baru umat Khonghucu tetap konsisten merayakan Tahun Baru Imlek dengan ritual Sembahyang Tahun Baru, Sembahyang Tuhan Allah (Tian), Cap Go Meh di litang-litang atau kelenteng-kelenteng dan di rumah-rumah. “Keluarga umat Khonghucu tetap menyambut Tahun Baru Imlek dengan berpakaian baru, makan bersama, saling mengucapkan selamat dan membagi angpao”.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang diselenggarakan oleh Matakin sebagai representasi umat Khonghucu di Indonesia sejak tahun 2000 selalu dihadiri oleh presiden yang dimulai oleh Presiden Abdurrahman Wahid kemudian diteruskan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan sekarang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional ke 2560 yang akan diselenggarakan Matakin di Jakarta Convention Centre pada tanggal 1 Februari 2009 Pkl. 13.30 sampai Pk. 17.45, Presiden dan ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono memastikan hadir.

PenghapusanPelarangan
Di setiap perayaan Imlek, presiden-presiden mengeluarkan pernyataan yang menyangkut penghapusan pelarangan-pelarangan terhadap tradisi, agama, dan budaya Tionghoa di Indonesia. Presiden Yudhoyono pada saat menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2557 tahun 2006 menyatakan bahwa Khonghucu adalah agama yang sah di Indonesia.

Matakin mengharapkan agar umat Khonghucu adapat merayakan Imlek dengan sederhana dan penuh keprihatinan sebagai momen mawas diri dan bukan untuk pesta-pesta menghambur-hamburkan uang di tengah-tengah penderitaan sebagian besar rakyat kita. Janganlah kita menyakiti hati rakyat yang sedang menderita! Marilah kita rayakan Imlek sebagai momen untuk persatuan bangsa terutama di kalangan masyarakat Tionghoa dan bukan menjadi sumber perpecahan! (Rom).

23 Januari 2009

Masyarakat Tionghoa Merayakan Imlek

JAMBI – Pada 26 Januari 2009, masyarakat Tionghoa di Indonesia akan merayakan Tahun baru Imlek 2560 secara terbuka dan meriah, dimana pada masa rezim Orde Baru mustahil dapat dilakukan, karena adanya larangan dari pihak penguasa yang sangat otoriter dan represif.

Seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan berlangsungnya reformasi maka saat ini hampir seluruh peraturan yang mendiskriminasi terhadap etnis Tionghoa, termasuk kesempatan untuk menjadi presiden dan pelarangan ritual kepercayaan, agama, tradisi, bahasa, dan aksara Tionghoa boleh dikatakan hampir seluruhnya telah dieliminasi.

Selaras dengan dihapuskannya pelarangan-pelarangan tersebut, Tahun Baru Imlek yang telah dinyatakan sebagai hari libur nasional dengan sendirinya bebas untuk dirayakan secara terbuka. Tahun Baru Imlek semasa Orde Baru dijauhi dan dianggap haram oleh sebagian kalangan masyarakat Tionghoa karena takut kepada penguasa.

Di sisi lain bagi Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) yang mewadahi umat Khonghucu di Indonesia, Tahun Baru Imlek adalah puncak dari ritual keyakinannya, namun walau begitu mereka tentunya tidak berhak untuk mengklaim bahwa Tahun Baru Imlek hanya milik umat Khonghucu saja dan memang selama ini belum pernah ada pernyataan yang berisi klaim tersebut.

Dengan jujur kita harus mengakui bahwa karena keyakinannya, di masa rezim Orde Baru umat Khonghucu tetap konsisten merayakan Tahun Baru Imlek dengan ritual Sembahyang Tahun Baru, Sembahyang Tuhan Allah (Tian), Cap Go Meh di litang-litang atau kelenteng-kelenteng dan di rumah-rumah. “Keluarga umat Khonghucu tetap menyambut Tahun Baru Imlek dengan berpakaian baru, makan bersama, saling mengucapkan selamat dan membagi angpao”.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang diselenggarakan oleh Matakin sebagai representasi umat Khonghucu di Indonesia sejak tahun 2000 selalu dihadiri oleh presiden yang dimulai oleh Presiden Abdurrahman Wahid kemudian diteruskan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan sekarang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional ke 2560 yang akan diselenggarakan Matakin di Jakarta Convention Centre pada tanggal 1 Februari 2009 Pkl. 13.30 sampai Pk. 17.45, Presiden dan ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono memastikan hadir.

PenghapusanPelarangan
Di setiap perayaan Imlek, presiden-presiden mengeluarkan pernyataan yang menyangkut penghapusan pelarangan-pelarangan terhadap tradisi, agama, dan budaya Tionghoa di Indonesia. Presiden Yudhoyono pada saat menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2557 tahun 2006 menyatakan bahwa Khonghucu adalah agama yang sah di Indonesia.

Matakin mengharapkan agar umat Khonghucu adapat merayakan Imlek dengan sederhana dan penuh keprihatinan sebagai momen mawas diri dan bukan untuk pesta-pesta menghambur-hamburkan uang di tengah-tengah penderitaan sebagian besar rakyat kita. Janganlah kita menyakiti hati rakyat yang sedang menderita! Marilah kita rayakan Imlek sebagai momen untuk persatuan bangsa terutama di kalangan masyarakat Tionghoa dan bukan menjadi sumber perpecahan! (Rom).

Tradisi Angpao Tahun Baru Imlek

JAMBI - Sejak lama, warna marah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukan kegembiraan. Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/ amplop merah. Sebenarnya tradisi memberikan angpao di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur atau pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan.

Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing.

Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak-anak menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?

Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar-benar resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang. Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?

Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir atau meminimalkan bencana” dengan harapan anak-anak yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan yang berhak menerima angpao?

Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak-anak dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi. (sumber : Yahoogroups/Budaya Tionghoa).

Legenda Gantung Lentera Merah

JAMBI – Setiap tahun menyelang perayaan Tahun Baru Imlek diseluruh pelosok tanah air akan terlihat gantungan Ten Long atau Lampu Lentera, terutama di rumah-rumah warga keturunan tionghoa, namun umumnya mereka mungkin tidak mengetahui dari mana asal usulnya tradisi gantung Ten Long atau Lentera Merah tersebut.

Berikut coplikan dari legenda Ten Long/ Lentera. Pada masa akhir Dinasti Ming, Li Zi Cheng, pemimpin pemberontak, bersama tentaranya sedang mempersiapkan diri untuk menguasai kota Kaifeng.

Demi mendapatkan informasi yang akurat, Li menyamar sebagai penjual beras masuk ke Kaifeng. Setelah mendapat gambaran yang jelas, maka Li menyebarkan berita untuk kalangan rakyat jelata bahwa tentara pemberontak tidak akan mengganggu setiap rumah yang menggantung lentera merah di pintu depan.

Sekembalinya Li ke markas, dia membuat rencana penyerangan. Para penjaga kota Kaifeng mulai mendapat serangan gencar dari tentara Li dan membuat mereka kewalahan. Tidak berdaya membuat pasukan penjaga kota Kaifeng mengambil jalan pintas membuka bendungan dengan harapan tentara Li tersapu banjir dan hancur.

Namun banjir juga melanda rumah penduduk.

Banyak orang yang berusaha menyelamatkan diri naik ke atap rumah. Bagi rakyat jelata, mereka hanya membawa lentera merah. Sedangkan kaum bangsawan dan pejabat berusaha menyelamatkan harta benda.

Banjir terus meninggi dan membuat orang-orang mulai putus asa.

Demi melihat penderitaan yang akan dialami banyak rakyat jelata, Li memerintahkan anak buahnya menyelamatkan rakyat dengan rakit dan perahu. Yang membawa lentera merah tentunya.

Untuk memperingati kebaikan hati Li dalam menyelamatkan rakyat jelata, maka bangsa Tionghoa selalu menggantung lentera merah pada setiap perayaan penting, seperti Perayaan Tahun Baru Imlek (dari berbagai sumber).

19 Januari 2009

Hidup dengan seadanya

JAMBI - Setiap orang tentu tidak menghendaki hidup dibawah garis kemiskinan, namun kehidupan seseorang di atas dunia telah ditentukan oleh Sang Pencipta Alam Semesta, sebagai manusia hanya sebagai pelakon tanpa kuasa untuk menolaknya.

Seperti yang dialami Muitandi (69) warga Rt 34 Kelurahan Kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi yang hidup bersama istri jauh dari keramaian kota.

Bila kita bertanya pada Muitandi dirinya tentu tidak ingin jadi orang yang miskin hidup dan tinggal disebuah gubuk yang dikeliling dengan semak-semak belukar. walaupun dalam kondisi Muitandi cukup memperhatinkannamun beliau menerima dengan tabah.

Saat timweb yang bertandang kerumahnya bersama Generasi muda Buddhis Sakyakirti Jambi (GBSJ) Minggu kemarin (19/1), kehadiran GBSJ adalah untuk menyerahkan bantuan paket imlek agar untuk Muitandi bisa merayakan layaknya seperti warga Tionghoa lainnya, kehadiran rombong diterima dengan oleh Muitandi sambil memberikan sejuman, “silahkan duduk didalam, ya beginilah kondisi kami”.

Waktu menyerahkan bingkisan imlek oleh Suryanto, istri Muitandi hanya menerima 1 karung beras ukuran 25 kilogram dan 1 dus mie instan, sedangkan paket lain sempat ditolaknya. Karena tidak terpikir untuk merayakan tahun baru Imlek.

Ujar Muitandi mana ada yang mau bertandang ketempatnya kami yang jauh dari jalan raya, rasa haru terpancar dari wajahnya yang kusut, selanjutnya kata Muitandi, mana ada pemikiran untuk merayakan tahun baru imlek, " untuk dapat makan sehari-hari sudah saya syukuri”.

Muitandi tinggal disitu sejak tahun 1987 atau 22 tahun yang lalu bersama istri keuanya, sedangkan istri pertamanya telah lama pisah dan anak-anak ada samanya. Untuk dapat mencapai pondok Muitandi, dari jalan raya harus berjalan kira-kira lima kilometer baru tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Albaroka dari Ponpes kita berjalan disemak-semak lebih kurang 100 meter, baru tiba dirumah Muitandi (Rom).

17 Januari 2009

Semarak menyambut Tahun Baru Imlek 2560

KOTA JAMBI - Perayaan menyambut Tahun Baru merupakan momentum yang harus dirayakan bersama, karena perayaan tahun baru hanya setahun sekali, tinggal bagaimana kita merayakannya.

Tahun Baru Imlek yang lebih dikenal sebagai Tahun Baru Tionghoa seminggu lagi tepatnya tanggal 26 Januari 2009 atau Lunar Kalender Imlek Chia Gwee Chui It 2559, namun nuansa menyambut kedatangan tahun baru imlek mulai terlihat, seperti asesoris-asesoris yang bernuasa imlek diantaranya Teng Long (Lampion), Kartu ucapan berbagai ukuran menghiasi pusat perbelanjaan maupun toko-toko.

Berdasarkan hasil pantauan timweb, Kamis malam (15/01), ditoko Anugra Bintang Terang (ABT) yang terletak di Jalan Hayam Wuruk No. 09, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mulai diserbu warga tionghoa yang hendak merayakan tahun baru imlek, pada umumnya warga membeli asesoris yang bernuansa imlek diantaranya seperti Teng Long (Lampion) yang berbentuk opal, persegi dan dapat mengunakan lampu penerang didalam lampion tersebut (bola lampu pijar ukuran 5 watt) ada juga Teng Long terbuat dari plastek warna merah yang berbentuk buah nanas, mercon dan lain sebagainya.

Selain asesoris lampion ditoko ABT juga terdapat asesoris berbentuk ucapan Xin Nien Kwai Luo (baca Selamat Tahun baru red), Kong Xie Fat Chai (baca Selamat Beruntung red) dan lain-lain, asesoris tersebut biasanya dipajang didinding rumah, restoran/rumah makan maupun dikantor – kantor saat tahun baru imlek tiba, disamping itu juga toko ABC juga tersedia berbagai perlengkapan sembahyang seperti Teng Lau, Tie Kong Teng (baca kertas sembahyang red), dari jenis kertas biasa (kertasnya agak kasar) sampai yang terbagus kualitasnya (kertasnya harus & tipis), juga terdapat aneka Hio (garu) dari kwalitas biasa (tidak harum) sampai kwalitas tebaik (garunya harum semerbak), di toko ABT juga tersedia berbagai jenis Kim Sin (baca Patung Dewa red) seperti Kim Sin “ Hok Tek Chen Sen “ (Tua Pek Kong), Kin Sin “ Lam Hai Kwan Im “ (Dewi Pengasih), Kin Sin “ Kwan Seng Thai Te “ (Dewa Kwan Te Kong) dan berbagai macam kin sin dewa-dewi.

Pimpinan ABT, Aguan Kepada timweb mengatakan bahwa “ Teng Long (Lampion) yang kita jual ini umumnya buatan dari Tiongkok yang dipesan dari agen/ penjualan di Jakarta, Teng Long dan asesories lainnya di impor dari RRC, selanjutnya kata Aguan, Teng Long (lampion) kita jual dengan berbagai macam harga dari harga puluhan ribu sampai lima puluhan ribu perpasang “.

Salah satu warga yang sengaja pada malam tersebut datang ketoko ABT untuk memilih Teng Long yang ada di toko tersebut mengatakan “ kami sengaja datang pada malam hari, karena pada malam Teng Long tersebut diberikan lampu penerang dan juga disini umumnya setiap tahun ada Teng Long model terbaru “ ungkapnya (Rom).

16 Januari 2009

TAHUN BARU IMLEK 2560

MAKNA DIBALIK PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK

( KHONGCULEK )

Oleh: Ws.Mulyadi – Ketua MAKIN Cimanggis

Anggota FKUB Kota Depok

Sejak ditetapkannya Tahun Baru Imlek sebagai salah satu hari libur nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Kepres No.19/2002 tertanggal 9 April 2002, maka setiap tiba datangnya Tahun Baru Imlek kita mulai merasakan suasana yang berbeda dan melihat berbagai macam pernak-pernik atau hiasan khas Imlek yang dijual khususnya di daerah perkotaan, orang juga mulai sibuk melakukan berbagai macam persiapan baik dalam lingkungan keluarga, di pusat-pusat perbelanjaan maupun di berbagai tempat ibadah. Tahun Baru Imlek pada tahun ini jatuh bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2009 (1 Cia Gwee 2560 Imlek). Saat ini orang lebih merasakan suasana yang lebih meriah dan memiliki kebebasan untuk mengekpresikan kegembiraan dalam merayakannnya, sama seperti halnya dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Tahun Baru Masehi 1 Januari. Perayaan Tahun Baru senantiasa diidentikan dengan pertunjukan barongsai atau bagi-bagi angpau (hungpao) khususnya dilakukan oleh mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek.Suasana ini tidak dapat kita jumpai sebelumnya, setidaknya lebih dari tiga dasawarsa sejak adanya kebijakan pemerintah pada saat itu yang membatasi perayaan hari-hari keagamaan khususnya bagi orang-orang Tionghoa yang hanya diperbolehkan pada lingkungan keluarga saja; seperti tercantum dalam Inpres No.14/1967 yang sudah dianulir pada masa Presiden Gusdur. Meskipun sebenarnya perayaan Tahun Baru Imlek sebelumnya juga dapat dirayakan secara umum seperti sekarang ini. Sejak bergulirnya era reformasi, kebebasan beragama dan berekpresi di Indonesia nampaknya terlihat lebih nyata, hal ini sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang multikultur dan multi etnis serta distunjang oleh adanya kesadaran dari aparat birokrat saat ini yang mulai menyadari hal ini meskipun belum seluruhnya, karena masih ada saja oknum yang mempersulit dan terkesan diskriminatif dalam memberikan pelayanan terhadap etnis terntentu. Seluruh penduduk Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara. Termasuk diantaranya adalah hak kebebasan dalam beragama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, karena hal tersebut jelas dijamin oleh Undang-undang Dasar pasal 29.

Sudah barang tentu perayaan Tahun Baru Imlek saat ini bukan lagi menjadi milik satu golongan tertentu saja (Tionghoa. Pen.), melainkan sudah menjadi milik seluruh bangsa di dunia. Namun hal tersebut tidak terlepas dari latar belakang sejarah asal muasal Tahun Baru Imlek itu sendiri yang berkaitan erat dengan sistim penanggalan Imlek/Yinli/Khongculek/Kongzili. Misalnya penetapan tahun pertama dari Tahun Baru Imlek adalah dihitung sejak tahun pertama kelahiran Nabi Kongzi (baca Kungtze) yakni tahun 551 Sebelum masehi. Bagi mereka yang beragama Khonghucu (Rujiao), merayakan Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar untuk merayakan tradisi untuk menyambut datangnya musim semi saja, melainkan mengandung suatu makna religius yang sangat mendalam.Hal ini terbukti bahwa umat Khonghucu senantiasa melakukan berbagai macam kegiatan sebelum tiba saat perayaan Tahun Baru Imlek. Antara lain mereka melakukan sembahyang kepada segenap keluarga yang sudah tiada sebagai wujud rasa bhakti kepada leluhurnya. Mengumpulkan dana Ji Si Siang Ang (Hari Persaudaraan) sebagai wujud Cinta Kasih dan keperdulian terhadap sesama. Membersihkan tempat ibadah dan rumah keluarga masing-masing sebagai refleksi menyambut tibanya tahun yang baru dengan suasana yang baru pula.

Pada malam saat pergantian tahun, tepatnya dimulai pada pukul 23.00 mereka melakukan sembah sujud dan syukur kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa) atas segala berkah dan karunia yang telah dilimpahkanNya sepanjang tahun lalu dan kini mereka bersiap diri untuk menyongsong tibanya Tahun Baru dengan suasana yang baru. Di dalam Kitab Zhong Yong/Tengah Sempurna Bab XV tersurat : “Sungguh Maha Besar Kebajikan Gui Shen (baca kui shen) atau Tuhan Yang Maha Roh. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan di kanan-kiri kita. Di dalam Kitab Shu Jing/Sanjak III.3.2.7 tertulis: “Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Roh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan.Maka sungguhlah jelas sifatNya yang halus itu, tidak dapat disembunyikan dari Iman kita, demikianlah Dia.Demikianlah hendaknya seorang umat Khonghucu mempersiapkan datangnya Tahun yang Baharu ini dengan melakukan berbagai macam persiapan, bukan saja yang bersifat jasmani melainkan juga hal yang bersifat rohani. Karena tujuan pengajaran agama adalah menyeimbangkan antara kehidupan jasmani dan rohani atau antara kehidupan duniawi dan akhirat.

Selanjutnya di dalam Kitab Daxue (baca Tashue) II.1 tersurat : “Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus setiap hari dan jagalah agar senantiasa baharu selama-lamanya”. Makna yang tersirat sangat jelas, bahwa hal itu menunjukkan semangat pembaharuan harus senantiasa dijaga di dalam diri kita masing-masing untuk kembali kepada kodrat kemanusiaan kita; apa yang kurang baik pada masa lalu hendaklah kita tinggalkan, sebaliknya hal-hal yang baik hendaknya ditingkatkan pada masa mendatang. Dengan demikian kita akan senantiasa dipacu untuk selalu melakukan mawas diri dan introspeksi diri akan kinerja yang telah kita lakukan pada masa lalu. Kitapun menyadari sebagai manusia yang sering melakukan kesalahan dan kelalaian, maka saat itu adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk kembali kepada Jalan Suci (Tao). Nabi Kongzi (baca Kungtze) bersabda: “Pagi hari mendengar akan Jalan Suci (Tao), sore hari berpulangpun ikhlas” (Lun Yu/Sabda Suci IV:8). “Bersalah tetapi tidak mau memperbaikinya, inilah benar-benar kesalahan”. (Lun Yu / Sabda Suci XV:30). Tidak hanya sampai disitu saja, satu hari sejak tanggal 1 bulan kesatu sampai dengan tanggal 8 bulan kesatu Imlek seluruh umat Khonghucu diwajibkan untuk berpantang makan makanan berjiwa (vegetarian), hal ini dilakukan untuk memperluas rasa Cinta kasih kita, bukan saja terhadap sesama melainkan juga terhadap makhluk hidup yang lain. Bahkan pada tanggal 8 bulan kesatu menjelang pelaksanaan Upacara Sembahyang besar kepada Tian (Tuhan YME) atau Jing Tian Gong (baca cing tien kung) mereka berpuasa penuh satu hari sampai selesai dilaksanakannya upacara sembahyang tersebut. Hal ini dilakukan untuk membersihkan diri dan mensucikan hati sebagai persiapan sebelum melaksanakan upacara sembahyang tersebut. Sembahyang besar Jing Tian Gong (baca: cing Tien kung) dilakukan sebagai prasetya kita kepada Tian untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu dan tidak mengulanginya dimasa yang akan datang. Pada hari Tahun Baru, biasanya anggota keluarga yang lebih muda usianya akan memberikan penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua ; dimulai dari anak-anak yang menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru kepada ayah dan ibunya masing-masing, lalu dilanjutkan terhadap anggota keluarga yang lain dan juga para tetangga dan sahabat. Disini akan terlihat suasana kekeluargaan dengan adanya saling kunjung diantara keluarga yang satu kepada keluarga yang lain. Mereka saling bermaafan satu sama lain sebagai wujud dan rasa persaudaraan.

Perayaan Tahun Baru Imlek biasanya ditutup dengan perayaan Cap Go Me/Yuan Xiao, tepatnya jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Pada hari itu semua umat mengungkapkan rasa syukurnya dan bersuka cita dengan melakukan berbagai macam atraksi hiburan atau arak-arakan seperti permainan ular naga (liong/lung) dan barongsai sebagai ungkapan rasa gembira dan syukur dalam memasuki tahun yang baharu. Perayaan Cap Go Me saat inipun sudah menjadi suatu perayaan yang lebih menonjolkan hiburan ketimbang kegiatan ritual keagamaan meskipun hal itu dilakukan di tempat-tempat ibadah. Bagi umat Khonghucu mereka kembali melakukan ibadah dan bersembahyang di tempat ibadah seperti Litang atau Kelenteng sebagai ungkapan rasa syukur untuk dapat memasuki tahun yang baharu dengan selamat dan sentosa.

Demikianlah makna dibalik perayaan Tahun Baru Imlek dari persepsi agama Khonghucu. Setiap orang berhak untuk turut serta merayakan dan memeriahkan Tahun Baru Imlek, karena perayaan tersebut memang sudah menjadi milik umum dan seluruh bangsa di dunia. Yang jelas dengan perayaan Tahun Baru Imlek hendaknya senantiasa dipupuk semangat persaudaraan diantara semua warga bangsa dan semangat pembaharuan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Xin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi ! – Selamat Tahun Baru, semoga Keberkahan dan Kebahagiaan senantiasa menyertai anda. Shanzai !

MAKNA TAHUN BARU YIN LI

(XIN ZHENG/SIEN CIA)
BAGI UMAT AGAMA KHONGHUCU

Di lingkungan umat Khonghucu dan Tri Darma khususnya atau lebih luas di dalam masyarakat Tionghoa, bahkan di dalam lingkungan bangsa-bangsa di Asia Timur, merayakan hari Tahun Barunya, meskipun mungkin ada sebutan yang berbeda tetapi adalah sama di dalam sistem penanggalannya; yaitu pada tanggal 1 bulan satu Iemlik / Yin Li, 阴 厉 yang selalu jatuh pada bulan baru antara 21 Januari sampai 19 Februari, atau antara saat hari Tai Han / Da Han, 大 寒 (Great Cold - Saat Terdingin) sampai dengan hari Hi Swi / Yu Shui, 雨 水 (Spring Showers - Hujan Musim Semi).

Imlik artinya Penanggalan yang berdasar peredaran bulan. Sebaliknya Yanglik / Yang Li, 阳 厉 berarti penanggalan yang berdasar peredaran matahari. Penanggalan Iemlik tiap bulan tanggal satu selalu jatuh pada bulan baru dan pada tanggal 15 adalah bulan purnama. Karena bulan mengelilingi bumi lebih kurang 29 ½ hari maka tiap bulan terdiri atas 29 atau 30 hari. Penanggalan Yanglik mengutamakan pembagian bulannya untuk disesuaikan dengan peredaran musim. Maka satu tahunnya disesuaikan dengan letak matahari dalam masa satu tahun yang lebih kurang 365 ¼ hari. Penanggalan Iemlik kita meski disesuaikan dengan peredaran rembulan tetapi dicocokkan pula dengan peredaran matahari. Maka cocok untuk menentukan bulan baru dan purnama tetapi juga cocok untuk menentukan peredaran musim. Oleh karena itu sesungguhnya kurang lengkap kalau hanya dinamai Iemlik, kiranya lebih tepat dinamai Iem-Yang Lik / Yin-Yang Li, 阴 阳 厉. Untuk mencocokkan dengan peredaran matahari tiap 5 tahun diadakan 2 kali bulan Kabisat - Lun Gwee / Run Yue,闰 月, yang dalam setahunnya berisi 13 bulan.

Ada beberapa sebutan untuk penanggalan Iemlik kita itu. Nama aslinya ialah He Lik / Xia Li, 夏 厉 atau Penanggalan Dinasti He / Xia, 夏. Dinamai He Lik karena Dinasti He (2205 - 1766 s.M.) adalah yang pertama-tama dicatat telah menggunakan secara resmi penanggalan ini. Nama sebutan lain ialah Long Lik / Nong Li, 农 厉, artinya Penanggalan Petani, karena penanggalan ini Tahun Barunya dimulai saat menjelangnya musim semi, dan perhitungan-perhitungan musimnya sangat cocok untuk para petani. Dinamai pula Khongcu Lik / Kongzi Li, 孔子 厉 atau Penanggalan Nabi Khongcu karena penggunaannya kembali secara resmi sejak jaman Raja Bu / Wu, 武 (140 - 86 s.M.) dari Dinasti Han,汉 (206 - 220 s.M.), yang menetapkan bulan baru pada saat bulan Kian Ien / Jian Yin, 建 寅 hari pertama sebagai permulaan Tahun Baru. Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Khongcu yang terdapat di dalam Kitab Lun Gi / Lun Yu, 论 语 XV : 11 (Gan Yan / Yan Yuan, 颜 渊 bertanya bagaimana mengatur pemerintahan. Nabi bersabda, “Pakailah penanggalan Dinasti He....................”).

Mengapakah Nabi Khongcu sampai mengucapkan sabda itu dan bagaimanakah Raja Han Bu Tee / Han Wu Di, 汉 武 帝 sampai menetapkan kembali pada tahun 104 s.M. saat Thai Cho / Tai Chu, 太 初 bulan Kian Ien / Jian Yin sebagai permulaan tahun penanggalan resminya? Baiklah kami berikan penjelasannya.

Nabi Khongcu yang hidup pada jaman Dinasti Ciu / Zhou, 周 (1122 - 255 s.M.) merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Zhou itu kurang sesuai untuk kepentingan rakyat banyak yang hidup sebagai petani, yang Tahun Barunya ditetapkan mulai bulan baru sekitar hari Tangcik / Dongzhi, 冬至 (Winter Soltice - Pertengahan Musim Dingin).

Pada jaman Tiga Dinasti (Sam Tai / San Dai, 三 代) yaitu He / Xia, 夏 (2205 – 1766 s.M.), Siang (Ien) / Shang (Yin), 商 (1766 – 1122 s.M.), dan Ciu / Zhou, 周 (1122 – 255 s.M.) menjadi tradisi tiap dinasti menggunakan sistem penanggalan yang lain. Perbedaan penanggalan ini terutama adalah mengenai saat hari Tahun Barunya.

Dinasti He menetapkan Tahun Barunya pada saat Kian Ien / Jian Yin, 建 寅 (saat kejadian manusia), Cia Gwee / Zheng Yue, 正 月 yang sekarang ini. Dinasti Ien / Yin, 殷 (1766 - 1122 s.M.) menetapkan saat Kian Thio / Jian Chou, 建 丑 (saat kejadian bumi), yaitu bulan baru atau tanggal satu Cap-ji Gwee / Shi-er Yue, 十二 月 yang sekarang ini. Dan Dinasti Ciu menetapkan saat Kian Cu / Jian Zi, 建 子 (saat kejadian langit), yaitu bulan baru Cap-iet Gwee / Shi-yi Yue, 十一 月 atau tepatnya saat Tangcik (22 Desember). Di dalam penghidupan rakyat jelata pada jaman dahulu penetapan saat Tahun Baru memegang peranan penting karena penetapan itu menjadi pedoman mereka menyiapkan pekerjaan di dalam tahun mendatang. Pada jaman kuno itu tidak ada catatan penanggalan yang dimiliki oleh rakyat sendiri, karena tidak ada alat-alat tulis seperti sekarang. Mereka menanti saat-saat datangnya Tahun Baru dari petugas kerajaan yang tiap Tahun Baru memberitakan maklumat-maklumat raja. Di dalam Kitab Su King / Shu Jing, 书 经 Bagian Kitab Dinasti He ditulis : “Tiap tahun pada saat datang permulaan musim semi (Bing Chun / Meng Chun, 孟 春) diperintahkanlah orang dengan membawa Bok Tok / Mu Duo, 木 铎 (Genta logam yang dipukul dengan kayu / canang) berjalan sepanjang jalan.” (untuk menyampaikan amanat-amanat itu). Sebagai yang kita ketahui Dinasti He menetapkan Tahun Barunya pada saat menjelang musim semi, maka utusannya pun dikirim pada saat itu. Demikian pula Dinasti Ien atau Siang / Shang, 商 yang menetapkan Tahun Barunya pada akhir musim dingin atau Kwi Tang / Ji Dong, 季 冬 dan Dinasti Ciu menetapkan Tahun Barunya pada pertengahan musim dingin atau Tiong Tang / Zhong Dong, 中 冬 atau Dong Zhi 冬 至 (tibanya musim dingin). Maka mereka akan mengutus orangnya juga pada bulan yang sesuai dengan penetapannya itu. Kini dapat kita simpulkan Dinasti He jauh lebih bijaksana karena berita datangnya Tahun Baru tepat sebagai perintah segera menyiapkan pekerjaan untuk tahun mendatang. Sedangkan Dinasti Ien dan Ciu rakyat masih harus menanti satu - dua bulan melewatkan musim dingin.

Nabi Khongcu yang di dalam seluruh hidupnya mencurahkan perhatian untuk kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat, maka dapat kita pahami mengapa beliau bersabda kepada Gan Hwee / Yan Hui, 颜 回 tentang pemerintahan yang baik dianjurkan menggunakan penanggalan Dinasti He. Terhadap anjuran Nabi Khongcu itu sudah barang tentu tidak ada raja atau rajamuda-rajamuda Dinasti Ciu yang mau menerimanya, karena penanggalan adalah lambang suatu Dinasti. Benar kemudian Dinasti Ciu runtuh pada tahun 255 s.M. dan berdiri Dinasti Chien / Qin, 秦 (255 - 206 s.M.) yang juga mengganti sistem penanggalannya, tetapi saat Tahun Barunya justru dimajukan sebulan lagi, jadi bulan Cap Gwee / Shi Yue, 十 月 yang sekarang.

Dinasti Chien tidak lama memerintah, baru turun pada kaisar yang kedua, Ji Si Hong Tee / Er Shi Huang Di, 二 世 皇 帝 Dinasti Chien telah ditumbangkan oleh seorang pemberontak dari Negara Cho / Chu, 楚 yang bergelar Cho Pa Ong / Chu Ba Wang, 楚 霸 王 bersama rekannya yang bernama Lau Pang / Liu Bang, 刘 邦. Setelah musnah Dinasti Chien, terjadi pertengkaran antara 2 pemimpin pemberontak itu. Cho Pa Ong akhrinya kalah dan berdirilah Dinasti Han dengan Lau Pang sebagai rajanya dan bergelar Han Koo Co / Han Gao Zu, 汉 高 祖. Raja-raja Dinasti Han nampaknya mula-mula selalu sibuk dengan urusan-urusan militer maka mengenai perubahan penanggalan dll. urusan sipil tidak terlalu mendapat perhatian. Meskipun demikian terdapat suatu perbedaan besar antara Dinasti Chien dan Dinasti Han. Kalau pada jaman Dinasti Chien umat dan tokoh-tokoh agama Khonghucu menderita penganiayaan dan dikejar-kejar tetapi pada jaman Dinasti Han mereka mendapatkan kedudukan yang baik. Kalau pada jaman Dinasti Chien sampai pun Kitab-kitab Suci kita diperintahkan dibakar dan dimusnahkan (213 s.M.) tetapi pada jaman Dinasti Han pemerintah membantu pengumpulannya kembali dengan didirikannya jawatan-jawatan khusus untuk keperluan itu.

Bahkan pada jaman Raja Bu / Wu 武 (140 - 86 s.M.) agama Khonghucu ditetapkan sebagai agama negara. Sistem ujian negara untuk mengganti sistem keturunan bagi jabatan-jabatan penting yang sesuai dengan jiwa ajaran Nabi Khongcu dilaksanakan, dengan mata pelajaran dasar adalah Kitab-kitab Suci kita. Dan pada tahun 104 s.M. sistem penanggalan yang disabdakan Nabi Khongcu yaitu yang menggunakan sistem penanggalan Dinasti He diresmikan sebagai penanggalan negara. Demikianlah penggunaan sistem penanggalan Dinasti He menjadi suatu lambang kemenangan perjuangan dan semangat umat Khonghucu di dalam mengembangkan ajaran Nabi Khongcu.

Semenjak jaman Dinasti Han, meskipun dinasti yang satu runtuh diganti dengan dinasti yang lain, tetapi sistem penanggalan yang resmi di Tiongkok tidak berubah lagi sampai akhir Dinasti Bwanching / Manqing, 满 清 (1922 M) ketika sistem penanggalan resmi diubah menjadi Yang Lik oleh pemerintah Republik Tiongkok.

Ajaran Agama Khonghucu sesuai dengan semangat yang diajarkan di dalam Kitab Tiong Yong (XXX : 4) / Zhong Yong, 中 庸 : “Maka gema namanya meliput seluruh Tiongkok, terberita sampai ke tempat Bangsa Ban / Man, 蛮 dan Bek / Mo, 貊 sampai kemana saja perahu dan kereta dapat mencapainya, tenaga manusia dapat menempuhnya, yang dinaungi langit, yang didukung bumi, yang disinari matahari dan bulan, yang ditimpa salju dan embun, semua makhluk yang berdarah dan bernafas, tiada yang tidak menjunjung dan mencintaiNya.” Demikianlah ajaran Nabi Khongcu kemudian tersebar sampai di Korea, Jepang, Asia Tenggara dll. Maka sistem penanggalan He Lik ini juga digunakan di dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya. Di Korea, Jepang, Vietnam, Birma, meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari Tahun Baru yang sama. Ketika berkembang agama Buddha dan Taoisme di Tiongkok pada permulaan tarikh Masehi mereka juga menyesuaikan hari-hari besarnya dengan menggunakan penanggalan Iemlik atau He Lik ini. Sebagai contoh, umat Buddha di Indonesia disamping merayakan hari lahir, hari mencapai penerangan dan hari mencapai parinirwana dari Sang Buddha pada bulan purnama bulan Mei (hari Waisyak) mereka merayakan hari lahir Sang Buddha pada tanggal 8 Si Gwee / Si Yue, 四 月, hari mencapai penerangan pada tanggal 8 Cap-ji Gwee / Shi-er Yue, 十 二 月 dan hari mencapai parinirwana pada tanggal 15 Ji Gwee / Er Yue, 二 月. Demikianlah penanggalan Iemlik - He Lik atau Khongcu Lik ini menjadi lambang persaudaraan di antara umat agama Khonghucu, Buddha dan Taoisme.

Dari uraian diatas ini hari Tahun Baru Iemlik mempunyai makna penting :
a). Bagi umat Khonghucu menjadi lambang semangat perjuangan dan kemenangan di dalam berusaha membina kehidupan agamanya.
b). Menjadi lambang persaudaraan di antara umat Ji Kau / Ru Jiao, 儒 教,Hud Kau / Fo Jiao, 佛 教,Too Kau / Dao Jiao, 道 教, dan kini mungkin lebih luas lagi dalam lintas agama.

Selamat bahagia memasuki Tahun Baru 2560 / 2009, berlaksa perkara terselenggara seperti yang diharapkan.
Gong He Xin Xi, Wan Shi Ru Yi / 恭賀新禧 , 萬事如意.

Maha Besar Tuhan Khalik Semesta Alam,
Tuhan senantaisa melindungi Kebajikan !
Huang Yi Shang Di, 皇 矣 上 帝,
Wei TIAN You De ! 惟 天 佑 德 !
Shanzai ! 善 哉 !

Sebelum kami akhiri uraian ini, baik kiranya kita ketahui pula sedikit tentang upacara-upacara sekitar perayaan Tahun Baru Imlek. Di dalam acara-acara perayaan Tahun Baru Iemlik dapat kita urutkan demikian :

1). Tanggal 24 Cap - Ji Gwee : Upacara mengantar Co Kun Siang Thian ( Malaikat Dapur naik ke langit pada saat Cu Si, yaitu antara jam 11.00 sampai jam 01.00 malam ).
Coo Kun adalah malaikat yang mempunyai peranan penting di dalam keluarga, karena meskipun tempatnya di dapur, tetapi adalah yang menilik segenap isi keluarga dan wenang melaporkan kepada THIAN sehingga boleh menurunkan berkah atau hukuman bagi keluarga. Di dalam Kitab Lun Gi III : 13 tertulis :

Ong Sun-ke bertanya : “Apakah maksud peribahasa ‘Daripada bermuka-muka kepada Malaikat Oo ( Penjaga sudut rumah barat-daya ) lebih baik bermuka-muka kepada Malaikat Co.’ ?” Nabi bersabda, “Itu tidak benar, siapa berbuat dosa kepada THIAN tiada tempat meminta do’a.”

Maksud sabda Nabi disini ialah, kalau kita merawat altar Co Kun, menghormati Co Kun, hormatilah dengan keluhuran budi, jangan dengan hati yang dipenuhi sifat mencari keuntungan saja. Co Kun adalah makhluk suci yang tidak akan berbuat tidak benar menurut keinginan nafsu-nafsu rendah kita.
2). Hari menjelang 1 Cia Gwee sering kita sebut Ji Kau Jiet / Me :
pada hari ini ada dua upacara penting :
- siang hari Sembahyang Besar kepada leluhur.
- Malam hari Sembahyang Besar sujud dan syukur kepada THIAN YME. ( pada saat Cu Si : jam 11.00 - 01.00 malam ).
3). Hari Sien Cia :
Untuk mengucapkan selamat, hormat dan mohon maaf kepada orang tua dan sanak famili yang lebih tua dan saling memberi selamat antara kawan dan saling memaafkan. Ini dapat dilakukan sampai hari Capgomeh.
4). Tanggal 4 Cia Gwee, menyambut malaikat Co Kun turun.
5). Tanggal 8 - 9 Cia Gwee, Sembahyang Besar kepada THIAN YME atau King Thi Kong. Upacara ini tepatnya juga dilaksanakan pada saat Cu Si.
Upacara ini mempunyai perbedaan prinsip dengan upacara malam tahun baharu. Kalau pada malam tahun baharu adalah untuk merenungkan segala yang kita alami pada tahun yang lalu dan kemudian kita bersujud, bersyukur dan memohon ampun atas kesalahan kita yang lampau tetapi pada upacara King Thi Kong adalah untuk meneguhkan Iman dan tekad kita, berprasatya kehadapan THIAN YME apa yang akan kita sanggupkan di masa-masa mendatang. Maka untuk King Thi Kong ini perlu persiapan mental yang baik, maka berdasar keputusan MATAKIN, sehari setelah Sien Cia dapat dimulai Ciak Chai, berpantang dan selanjutnya bersuci diri bermandi keramas untuk menyiapkan diri bagi upacara suci itu.
6). Tanggal 15 Cia Gwee diadakan upacara dan pesta penutupan hari raya Sien Cia. Maka upacara Cap Go Me biasanya mempunyai acara yang lebih meriah, besar dan lebih bebas. Dan setelah itu mulailah tugas-tugas yang wajib kita laksanakan pada tahun mendatang sepenuhnya.

Semogalah dengan merayakan Tahun Baru Iemlik menjadikan kita terketuk hati dan mendapatkan dorongan semangat untuk berusaha mengembangkan ajaran Nabi demi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan di dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan kemanusiaan (Oleh : Xs. Tjhie Tjay Ing, Sala)

01 Januari 2009

Mengenal Lebih Dekat Angelina

KOTA JAMBI – Pepatah mengatakan tidak kenal maka tidak akan akrab, lantaran ada juga berpendapat bahwa seseorang yang telah biduanita (artis penyanyi) orang tersebut menjadi angkuh atau sombong.

Sebenarnya anggapan itu tidaklah benar semua, ternyata ada biduanita berasal dari daerah yang cukup ramah dan suka bersenda gurau, seperti sosok penyanyi asal Riau (Tanjung Pinang) yang bernama Angelina/ Angel (20).

Awalnya bertemu dengan Angel yang disapa sehari-hari saat Show Malam Perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu Cui) di Klenteng Hok Kheng Tong, waktu itu penulis juga beranggapan demikian, namun ternyata anggapan tersebut tidak terbukti setelah bertemu untuk kali kedua sedang mengadakan show pesta pernikahan Juitarno Wijaya dengan Sri Ivana di Abadi Convention Centre (ACC) Jambi, Minggu malam (28/12).

Saat bertemu Angel diruang istrirahat (belakang pentas), malahan Angel menyapa dengan ramah bersama dengan temannya bernama Huina (Artis Batam), menurut Angel setiap insan tentu mempunyai suka dan duka tinggal bagaimana kita melakoninya, bagi Angal semua itu kita terima dengan lapang dada apa yang diberikan Sang Pencipta Alam Semesta, sambil permisi untuk tanpil menghibur undangan (Rom).

Dari Prosesi Menyambut Tahun Baru

“Ratusan Umat Khonghucu Gelar Tradisi Sia Kang”

KOTA JAMBI - Sebagaimana disetiap awal tahun baru, bagu masyarakat Tionghoa yang memeluk agama Khonghucu mengunjungi klenteng-klenteng untuk melakukan sembahyang untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta Alam Semesta serta kepada para dewa-dewi. Berikut pantauan oyojambi.com, Kamis (01/01).

Sehari sebelum upacara pelaksanaan Sia Kang dilakukan, tampak Pengurus Klenteng Siu San Teng yang terletak di Kampung Manggis Jalan Kirana II Rt. 10 Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi beserta Lo Cu sibuk mempersiapkan berbagai keperluan upacara ritual Sia Kang. Siu San Teng merupakan klenteng terbesar di Kota Jambi.

Maka tidak heran apabila sejak pagi hari berduyun umat Khonghucu terdiri dari yang tua sampai anak-anak berdatangan ke Klenteng Siu San Teng, untuk sembahyang kepada Hok TeK Cen Se (baca Tua Pek Kong-red) selain itu salah satu tradisi adalah Sia Kang.

Sia Kang merupakan salah satu tradisi yang diperingati Masyarakat yang beragama Khunghucu di awal tahun, sekaligus menyampaikan ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas segala berkah yang diberikan kepada mereka, prosesi upacara dipinpim oleh The Lien Teng diawali pembacaan So Bun/Cie Bun (baca sejenis surat permohonan/undang-red) kepada Tie Kong serta mengundang para dewa-dewi.

Selang satu jam baru melakukan prosesi sembahyang di depan altar dewa-dewi juga dengan cara yang sama membacakan So Bun/Cie Bun.

Inti dari pembacaan So Bun dan Cie Bun adalah memohon izin dari Tuhan Yang Maha Esa untuk melakukan prosesi upacara Sia Kang, dan memohon perlindungan dari sang pencipta alam semesta, selain itu mengundang kehadiran dewa-dewi seperti Sam Kwan Tai Te yang terdiri dari dewa Siong Gwan Tien Kwan (dewa penguasa langit), Yiong Kwan Tue Kwa (dewa penguasa bumi) dan Ha Huan Cui Kwa (dewa penguasa air/laut) serta memohon agar dewa-dewi melindungi bangsa dan negara berikut segala isinya, serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, murah rejeki, jauhkan segala malapetaka dan lain sebagainya.

Sedangkan, diatas altar terdapat berbagai sesajian inti seperti 10 jenis ceng cai (sayuran kering), buah-buahan, cien up (permen), tie kue/kue kerancang, ang kue/kue merah isi kacang hujau, mie basah, bihun, ikan, ayam/bebek, selain itu terdapat sesajen lainnya seperti hasil bumi diantaranya kopi, teh, gula pasir dan lain sebagainya juga terdapat sesajen dari hasil air seperi limun, air mineral, arakputih, bir putih terus kim cua (kertas sembahyang), lilin merah dan hio (garu).

Seusai pembacaan So Bun/Cie Bun panitia membakarkan kim cua (kertas sembahyang) adapun makna dari Sia Kang.

Menurut penuturan Thee Lien Teng, dimana ratusan tahun yang lalu, bahwa leluhur masyarakat Tionghoa yang hijrah dari daratan Tiongkok ke Indonesia (khususnya ke Jambi) dengan mengunakan perahu layar melintasi laut dan Sungai Batanghari, sepanjang perjalanan mereka mendoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa-dewi serta leluhur.

Semoga tiba di Jambi dengan selamat tanpa kekurangan apapun, umumnya leluhur masyarakat Tionghoa waktu itu adalah petani juga pedagang, maka masyarakat mendirikan klenteng yang kini sebagai cagar budaya di Simpang Mangga, klenteng tersebut dibangun pada zaman Belanda kira-kira tahun 1905.

Maka sejak itu, setiap awal tahun masyarakat Tionghoa senantiasa melakukan Sia Kang sebagai ungkapan rasa sykur dan terima kasih kepada Tie Kong dan para dewa-dewi serta para arwah leluhur.

Menurut ketua Bidang Ritual Klenteng Siu San Teng, Djonni Attan kepada ayojambi.com, Kamis (01/01) Ritual Sia kang merupakan agenda tahun baru masehi yang mana pada umumnya toko-toko pada libur, maka yang datang sembahyang lebih banyak dari pada hari biasa, hal tersebut dapat dilihat dengan kehadiran para pengusaha maupun tokoh masyarakat.

Ujar Djonni Attan, seusai sembahyang semua sesajen yang dipersembahyang masyarakat dimasak dan dimakan bersama. Menurut kepercayaan masyarakat, jika dimakan hasil sembahyang akan mendapatkan perlindungan dari para dewa (Rom).